Sponsor

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 November 2008

Jalan Kaki di Rumah Dapat Tingkatkan Vitalitas Tubuh

Latihan olahraga di rumah tanpa pengawasan tenaga pelatih seperti misalnya jalan kaki dapat meningkatkan vitalitas tubuh dan kesehatan, demikian dilaporkan oleh sekelompok peneliti Jepang.

Melakukan kegiatan jalan kaki di sekitar rumah selama 20 menit sedikitnya dua kali dalam sepekan dan menambah jumlah langkah yang kita buat di dalam kegiatan keseharian di rumah, memperlihatkan manfaat yang besar bagi kesehatan tubuh maupun mental setelah berlangsung 32 pekan, demikian dilaporkan oleh Dr. Nozomi Okamoto beserta rekan-rekannya dari Fakultas Kedokteran Universitas Nara di Kashihara.

Manfaat dari latihan fisik atau olahraga bagi vitalitas tubuh adalah jelas namun sebagian penelitian menyangkut program latihan di bawah pengawasan tenaga pelatih kebugaran yang dapat memakan biaya yang cukup besar dan membuat hidup tidak nyaman, demikian disampaikan oleh Okamoto den rekan-rekannya.

Hasil temuan tersebut dipublikasikan di satu majalah olahraga The International Journal of Sports Medicine. Okamoto menguji apakah latihan fisik yang dilakukan sendiri di rumah yang bersifat santai dan rileks selama 32 pekan juga dapat membawa pengaruh positif bagi kesehatan.

Para peneliti memberikan program latihan olahraga secara acak kepada sekelompok orang yang berjumlah 200 orang dewasa dengan kisaran usia 42 hingga 75 tanpa menggunakan jasa tenaga pelatih kebugaran. Latihan itu dilakukan di rumah dan sebagian lainnya lagi melakukan program latihan fisik dengan memakai tenaga pelatih di suatu tempat kebugaran .

Sebagai tambahan kelompok pertama juga diminta mengikuti latihan kebugaran selama dua jam sekali setiap empat pekan.

Pada akhir program, mereka yang mengikuti program latihan kebugaran dengan pelatih memperlihatkan kemajuan yang besar dalam tes uji stamina olahraga jalan kali dan mereka kemudian diberi tes uji fisik lainnya yaitu diperintahkan untuk duduk, bangkit dari kursi dan duduk serta bangkit dari kursi terus berulang kali selama 30 detik.

Peserta pria dari kelompok pertama memperlihatkan kemajuan secara keseluruhan, baik kesehatan fisik maupun mental dibandingkan dengan kelompok yang melakukan program latihan olahraga dengan pelatih.

Sementara para wanita mengalami kemajuan dalam fungsi organ, vitalitas dan kesehatan secara keseluruhan.

Manfaat dari program olah fisik yang dilakukan di rumah sebanding dengan kelompok yang melakukan latihan fisik dengan pengawasan tenaga pelatih, demikian dikatakan Okamoto.

"Hasil temuan tersebut dapat direkomendasikan sebagai hal yang dapat diterapkan kepada masyarakat bahwa banyak kemungkinan dan cara melakukan kegiatan fisik seperti misalnya jalan kaki di rumah sebagai kegiatan sehari-hari, yang sama besar manfaatnya bagi kesehatan fisik maupun mental dibandingkan dengan latihan olahraga yang terprogram", Okamoto dan rekan-rekannya menyimpulkan.

Baca Selengkapnya

Minggu, 02 November 2008

Khawatir Bisa Jadi Sumber Penyakit

Apakah Anda ingin membuat kesehatan gusi Anda memburuk? Begitu juga dengan jantung Anda, dan Anda jadi mudah terserang penyakit mulai dari demam biasa hingga kanker? Kalau memang begitu mulailah khawatir terhadap kesehatan Anda!

Itulah jawaban menurut karangan kajian dalam majalah Perhimpunan Sains Psikologi, Oberserver. Tulisan tersebut mengungkap hasil penelitian baru lintas disiplin ilmu psikologi, obat, ilmu syaraf dan genetika, bahwa mekanisme yang menambah kuat stress dengan cepat dapat dipahami.

Bukti yang bertambah banyak memperlihatkan kepekaan kita pada stress saat dewasa sudah "tertata" pada masa kecil, demikian isi artikel kajian tersebut.

Secara khusus, jumlah stress yang dialami pada masa kanak-kanak membuat peka satu organisme hingga tingkat tertentu kesengsaraan. Tingginya tingkat stress pada masa kanak-kanak mungkin menghasilkan kondisi yang sangat peka terhadap stress dalam kehidupan selanjutnya, serta depresi saat dewasa.

Kejadiannya seperti timbulnya kesusahan yang kronis, misalnya konflik besar, kehilangan barang, peristiwa itu mungkin menimbulkan kenangan mengenai kejadian serupa pada masa depan, dan tubuh mereka harus segera menyesuaikan diri.

Menurut penelitian tersebut, sebagian orang dan juga hewan, lebih rentan terhadap stress. Satu studi pada 2007 mendapati bahwa tikus yang cenderung menghadapi stress menghasilkan terlalu banyak protein tertentu, yang tampaknya membuat mereka bereaksi berlebihan.

Selain sakit jantung, gangguan stress pasca-trauma dan depresi, stress kronis telah berkaitan dengan berbagai penyakit seperti gangguan usus, sakit gusi, disfungsi ereksi, gangguan pertumbuhan dan bahkan kanker.

Satu studi menemukan bahwa orang yang mengalami banyak stress di tempat kerja lebih mungkin untuk terserang diabetes Jenis 2.

Penelitian baru-baru ini juga memperlihatkan bahwa hormon stress dapat mengakibatkan gangguan kulit seperti psoriasis dan eksim. Peningkat hormon stress secara kronis telah terbukti meningkatkan pertumbuhan sel-sel pra-kanker dan tumor. Hormon itu juga menurunkan daya tahan tubuh terhadap HIV dan virus penyebab kanker seperti virus papilloma (pendahulu kanker tengkuk pada perempuan).

Baca Selengkapnya

Pneumonia, Penyebab Kematian Balita Nomor Satu

Pneumonia adalah penyakit saluran nafas bagian bawah, merupakan penyebab kematian utama pada bayi usia di bawah lima tahun (Balita), khususnya di negara-negara berkembang.

Pneumonia seolah menjadi penyakit yang 'terlupakan', padahal sekitar dua juta Balita setiap tahun meninggal dunia, karena penyakit itu jauh melebihi kematian yang disebabkan AIDS, Malaria dan Campak, kata dr. IGG Djelantik Sp A,C, Kamis (23/10).

Dilaporkan, di kawasan Asia - Pasifik diperkirakan sebanyak 860.000 Balita meninggal setiap tahunnya atau sekitar 98 anak setiap jam. Secara nasional angka kejadian Pneumonia belum diketahui secara pasti, data yang ada baru berasal dari laporan Subdit ISPA Ditjen P2M-PL Depkes RI tahun 2007.

Dalam laporan tersebut disebutkan, dari 31 provinsi ditemukan 477.429 anak Balita dengan pneumonia atau 21,52 persen dari jumlah seluruh Balita di Indonesia. Proporsinya 35,02 persen pada usia di bawah satu tahun dan 64,97 persen pada usia satu hingga empat tahun.

Di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang merupakan provinsi dengan angka kematian Balita tertinggi (102/1.000 kelahiran hidup) di Indonesia, angka kejadian pneumonia berat 21 per 100 anak yang di-observasi selama satu tahun.

Pneumonia yang dirawat di rumah sakit 83 per 100 anak dan Pneumonia yang secara radiologik menunjukkan 18 per 100 anak yang di-observasi selama satu tahun. Tidak mengherankan kalau di NTB, pneumonia juga merupakan penyebab kesakitan dan kematian terbanyak pada Balita.

Lebih lanjut dikatakan, dengan mengutip data-data WHO dan Unicef, 50 persen dari Pneumonia disebabkan oleh kuman 'Streptokokus pneumoniaen' (IPD) dan 30 persen oleh Haemophylus Influenza type B (Hib), sisanya oleh virus dan penyebab lain.

Secara global, sekitar 1,6 juta kematian setiap tahun disebabkan oleh penyakit yang disebabkan oleh 'Streptokokus pneumoiae' (pneumococcal disease), di dalamnya 700.000 hingga satu juta Balita terutama berasal dari negara berkembang.

Dalam tuntutan menurunkan angka kematian Balita menjadi duapertiga pada tahun 2015, maka sudah seharusnya semua negara, khususnya negara-negara berkembang, kembali memberikan perhatian terhadap pneumonia.

Mengenai upaya yang dilakukan, menurut Djelantik, perlu dilakukan beberapa upaya untuk menekan kematian Balita akibat Pneumonia, antara lain penerapan Manajemen Terpadu Balita Sehat (MTBS) dalam menangani Balita sakit, serta pemberian nutrisi dan Air Susu Ibu (ASI) secara ekslusif.

Di samping itu perlu dilakukan perbaikan lingkungan dan pemberian imunisasi Hib dan IPD, imunisasi Hib dan 'Streptokokus penumonia' (IPD) diharapkan mampu melindungi anak Balita dari ancaman kematian oleh pneumonia, radang selaput otak (meningitis) dan baktermia yang disebabkan oleh kedua kuman tersebut.

Khusus IPD, katanya, telah banyak dilaporkan kebal (resisten) terhadap berbagai antibiotika yang ada, sehingga imunisasi merupakan pilihan utama untuk mencegah kejadian dan kematian akibat penyakit yang ditimbulkan Pneumonia.

Program imunisasi telah diyakini mempunyai kontribusi dalam menekan angka kematian Balita, permasalahannya adalah bagaimana memasukkan vaksin Hib dan IPD dalam program pengembangan imunisasi.

Kedua vaksin tersebut telah terbukti memberikan perlindungan hingga 98 persen pada bayi yang telah memperoleh imunisasi, untuk itu diperlukan dukungan berbagai pihak agar upaya penekanan kematian Balita akibat Pneumonia menjadi prioritas.

Baca Selengkapnya
by TemplatesForYou-TFY
SoSuechtig, Burajiru
Distributed by Free Blogger Templates